Piracy vs Privacy
Aku pikir aku udah bener2 paham akan segala resiko, keuntungan and kerugian yg bakal muncul waktu aku mutusin untuk pindah ke tempat tinggalku sekarang...or maybe pikiranku salah. Kalau sebenarnya waktu itu aku ngga bener2 pake akal sehat secara maksimal soalnya kan lagi berada si state yg agak mengkhawatirkan gara2 aku abis ditendang dari kediaman yg dulu secara tiba2 oleh 'temen2'.
Skg kok hasratku yg paling besar itu adalah punya pulau pribadi yg jauh dari peradaban manusia, yg ga perlu mewah2. Cukup ada kasur empuk, bantal, guling, selimut, laptop ma sambungan internet. I am longing for privaacy more than I ever was.
Aku udah tau resiko and udah mulai terbiasa ma mood Tante Syl yg susah ditebak, suara2 berisik org2 kerja and pelanggan, suara nada telpon yg bikin aku bete dalam sekejap tapi goblok ku kalo itu ngga akan cukup sampe itu aja. Bodohku kalo tiap hari, ada aja hal baru yg lama2 bisa juga bikin kesabaranku menipis, bikin iman goncang hehehe...
Cuman pengen bisa tidur enak 3-4 jam an tanpa gangguan setelah abis kerja. Tanpa harus pintu kamar di ketok2 cuman buat nanyain hal2 sepele atau apa kek. Hanya karena kamarku pas di lokasi yg sangat (tidak) strategis bukan berarti aku akan selalu on duty walaupun aku benernya ngga, paham ngga maksudku?
Kalo aku udah selesai kerja ya udah, jangan diricukin ini itu. Udah ya udah, anggep aja aku udah pulang ke tempat laen yg ngga bisa diganggu gugat. Jangan karena aku ada di kamar terus ada apa2 di luar jam kerjaku aku tetep dianggep employee 24 jam yg bisa di involve dalam segala hal. Taruhan kalo kamarku misalnya 5 metres away aja dari jantung hati toko aja pasti aku bisa lebih tenang!!
Maunya pasang door tag di depan yg ada tulisannya 'Lagi tidur, jangan ganggu','Do not disturb' macem di hotel2 gitu tapi ntar ada pihak2 yg nyeloteh ngga karuan lagi. PIkirnya sok antisosial, ini itu lah. Skg aku baru sadar harga privacy itu mahal banget. Mbajak space mya org emang gampang banget (kayak aku dulu). Tapi aku juga udah sempet jadi saksi langsung maupun tak langsung apa akibat dari pembajakan privasi itu sendiri. Pertemanan aja bisa sampe kacau.
Sejak pengalaman ngga enak pas aku di kicked out dari Zijlweg, aku udah wanti2 diri sendiri kalo jangan sampe aku jadi manusia macem freak kayak mereka yg di sono. Anti social, ga bisa berbagi, egois, yg ga setia kawan. Tapi rupanya Tuhan skg lagi nge test aku by putting me in the situation that forces me to play the role of having my privacy pirated. Would I be turn into the character that I hate the most? or would I be able to gain a little bit of patience every single day?
Roommateku juga bukan pribadi yg gampang buat diajak share kamar. Mungkin dia juga mikir sama ttg aku. Everyone knows that we both are like North and South. Totally different like day and nite. Could be destroying or could be like what we have got so far...kekompakan. Tapi di balik semua itu, I have to tolerate some of her attitudes that sometimes bother me a lot. Mind you, I ain't easy to live with either. I try to understand her and accept her as I possibly could, just like I do to Tante Syl since they both are dearest to me. But I do sometimes wonder...is there anyone at all that ever concerns how I really feel inside? I ain't looking for sympathy or expecting anything at all tapi sampe kapan aku mesti nanggung semua sendirian. Jadi org tengah yg serba salah.
Apa emang hidup semua serba sendiri, mandiri tanpa harus ngericukin org laen apa2 jadi aku juga ngga diricukin bener2 bisa jadi suatu jalan keluar yg paling pas? Apa bedanya sama para freaks di sono? apa emang mereka bahagia hidup kayak gitu ya?
Pengen banget urusan di sini beres jadi aku paling ngga bisa 'lari' ke ortuku lagi. Atau lebih tepatnya take a break dari segala sesuatu di holland dan Sinar Cinta trus baru mulai hadepin tantangan berikutnya di Indo.
If I should describe what my daily life is like, I would say it's like a rollercoaster ride. I know I have said so many times that I felt bored at certain points, that nothing really exciting happened, my days were just so-so and bland. But after a closer look, everyday is actually unexpected for me emotionally. I wake up in the morning, no clue what's gonna happen and actually hope that there will be nothing happen for the rest of the day. I don't want my life here extraordinary, instead I just want to pass day after day without nothing happens between me, Tante Syl, Lisa, Pita, Rio, Steve and anyone else here.
Yg paling bikin aku kuatir ya soal Lisa ma Tante. It's just like a ticking bomb, not sure which one to blame, there will always be tension between two of them, no matter how casual they act in front of everyone like there's nothing wrong at all. I WISH THERE WASN'T. But nobody cant deny it. It is just waiting to explode someday. This whole situation is a burden for me even though I know that it is not their intentions at all.
This is one hell of an experience, since October 2005, one hell of chapter. My privacy, physcially and emotionally, is litterally being pirated. But could I ever yell to the pirates, "LEAVE ME ALONE!!! ENOUGH WITH ALL OF THIS SHIT!"?
Skg kok hasratku yg paling besar itu adalah punya pulau pribadi yg jauh dari peradaban manusia, yg ga perlu mewah2. Cukup ada kasur empuk, bantal, guling, selimut, laptop ma sambungan internet. I am longing for privaacy more than I ever was.
Aku udah tau resiko and udah mulai terbiasa ma mood Tante Syl yg susah ditebak, suara2 berisik org2 kerja and pelanggan, suara nada telpon yg bikin aku bete dalam sekejap tapi goblok ku kalo itu ngga akan cukup sampe itu aja. Bodohku kalo tiap hari, ada aja hal baru yg lama2 bisa juga bikin kesabaranku menipis, bikin iman goncang hehehe...
Cuman pengen bisa tidur enak 3-4 jam an tanpa gangguan setelah abis kerja. Tanpa harus pintu kamar di ketok2 cuman buat nanyain hal2 sepele atau apa kek. Hanya karena kamarku pas di lokasi yg sangat (tidak) strategis bukan berarti aku akan selalu on duty walaupun aku benernya ngga, paham ngga maksudku?
Kalo aku udah selesai kerja ya udah, jangan diricukin ini itu. Udah ya udah, anggep aja aku udah pulang ke tempat laen yg ngga bisa diganggu gugat. Jangan karena aku ada di kamar terus ada apa2 di luar jam kerjaku aku tetep dianggep employee 24 jam yg bisa di involve dalam segala hal. Taruhan kalo kamarku misalnya 5 metres away aja dari jantung hati toko aja pasti aku bisa lebih tenang!!
Maunya pasang door tag di depan yg ada tulisannya 'Lagi tidur, jangan ganggu','Do not disturb' macem di hotel2 gitu tapi ntar ada pihak2 yg nyeloteh ngga karuan lagi. PIkirnya sok antisosial, ini itu lah. Skg aku baru sadar harga privacy itu mahal banget. Mbajak space mya org emang gampang banget (kayak aku dulu). Tapi aku juga udah sempet jadi saksi langsung maupun tak langsung apa akibat dari pembajakan privasi itu sendiri. Pertemanan aja bisa sampe kacau.
Sejak pengalaman ngga enak pas aku di kicked out dari Zijlweg, aku udah wanti2 diri sendiri kalo jangan sampe aku jadi manusia macem freak kayak mereka yg di sono. Anti social, ga bisa berbagi, egois, yg ga setia kawan. Tapi rupanya Tuhan skg lagi nge test aku by putting me in the situation that forces me to play the role of having my privacy pirated. Would I be turn into the character that I hate the most? or would I be able to gain a little bit of patience every single day?
Roommateku juga bukan pribadi yg gampang buat diajak share kamar. Mungkin dia juga mikir sama ttg aku. Everyone knows that we both are like North and South. Totally different like day and nite. Could be destroying or could be like what we have got so far...kekompakan. Tapi di balik semua itu, I have to tolerate some of her attitudes that sometimes bother me a lot. Mind you, I ain't easy to live with either. I try to understand her and accept her as I possibly could, just like I do to Tante Syl since they both are dearest to me. But I do sometimes wonder...is there anyone at all that ever concerns how I really feel inside? I ain't looking for sympathy or expecting anything at all tapi sampe kapan aku mesti nanggung semua sendirian. Jadi org tengah yg serba salah.
Apa emang hidup semua serba sendiri, mandiri tanpa harus ngericukin org laen apa2 jadi aku juga ngga diricukin bener2 bisa jadi suatu jalan keluar yg paling pas? Apa bedanya sama para freaks di sono? apa emang mereka bahagia hidup kayak gitu ya?
Pengen banget urusan di sini beres jadi aku paling ngga bisa 'lari' ke ortuku lagi. Atau lebih tepatnya take a break dari segala sesuatu di holland dan Sinar Cinta trus baru mulai hadepin tantangan berikutnya di Indo.
If I should describe what my daily life is like, I would say it's like a rollercoaster ride. I know I have said so many times that I felt bored at certain points, that nothing really exciting happened, my days were just so-so and bland. But after a closer look, everyday is actually unexpected for me emotionally. I wake up in the morning, no clue what's gonna happen and actually hope that there will be nothing happen for the rest of the day. I don't want my life here extraordinary, instead I just want to pass day after day without nothing happens between me, Tante Syl, Lisa, Pita, Rio, Steve and anyone else here.
Yg paling bikin aku kuatir ya soal Lisa ma Tante. It's just like a ticking bomb, not sure which one to blame, there will always be tension between two of them, no matter how casual they act in front of everyone like there's nothing wrong at all. I WISH THERE WASN'T. But nobody cant deny it. It is just waiting to explode someday. This whole situation is a burden for me even though I know that it is not their intentions at all.
This is one hell of an experience, since October 2005, one hell of chapter. My privacy, physcially and emotionally, is litterally being pirated. But could I ever yell to the pirates, "LEAVE ME ALONE!!! ENOUGH WITH ALL OF THIS SHIT!"?

3 Comments:
This comment has been removed by a blog administrator.
By
Husadareiki, at 9:51 PM
This comment has been removed by a blog administrator.
By
Husadareiki, at 9:51 PM
Gunsmithy said...
Hei Pat,
aku pernah ngalamin situasi kaya gitu, dirumah sendiri, ngga pernah ada privacy, apa lagi kan kerja sendiri, kan kantornya dirumah jadi lebih sering dimintai tolong terus sama family, emang stressful, but believe or not, semua itu ada pelajarannya lho, pelajaran pertama yang kudapet, jadi ngerti emosi sendiri, pikiran sendiri, en, suddenly tau aku ini sebenarnya apa, yang negatif and positif, its ok Pat, aku rasa kamu ntar jadi orang yang kuat en wise, hhmm, perhaps kalo dah di Indo, worth for a flower and dinner??? hehe
By
Husadareiki, at 9:58 PM
Post a Comment
<< Home